Available in: Bahasa   English   Bengali   Go to media page

Bagaimana Cara untuk Berada dalam Hadirat Spiritual Mawlana Syekh Nazim (q)

Syekh Nour Kabbani

20 Februari 2016 Chicago, Illinois

A’udzubillaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim. Alhamdulilaahi Rabbi ‘l-`alamiin wa ‘sh-shalaatu wa ‘s-salaamu `alaa Sayyidina Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin.

Destur yaa Sayyidi, yaa Sulthaanul Anbiya

Destur yaa Sayyidi, yaa Sulthaanul Awliya

Destur yaa Sayyidi, Mawlana Syekh Nazim (q)

Destur yaa Sayyidi, Yaa Qutbal Mutasharrif

Yaa Rijalallaah…

[tawassul]

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim

Kita semua ingin terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q) dan beliau mengajari kita bagaimana caranya. Sekarang kita dapat terhubung dengan mursyid kita dan kita bisa melakukan shalat bersamanya, kita dapat berkumpul bersamanya secara spiritual dan itu adalah sebuah rahasia yang diungkapkan oleh Mawlana Syekh Nazim (q). Jadi, bagaimana caranya untuk dapat terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q) sekarang? Mawlana Syekh Nazim (q) telah pergi ke alam berikutnya. Bagaimana cara agar terhubung dengannya, beliau sudah mengatakan bagaimana cara melakukannya. Beliau berkata, pertama-tama Mukmin harus mengetahui apakah amal terbaik yang dapat dilakukannya dan melalui amal itulah tercipta koneksi kepada Mawlana Syekh Nazim (q). Dan itu adalah amal yang sangat sangat mudah dilakukan bagi para pecinta Mawlana Syekh Nazim (q) dan pecinta seluruh awliya yang tadi kita sebutkan nama-namanya.

Seluruh awliya, 124.000 wali, seluruh Nabi—jika kita ingin terhubung dengan mereka, kita ingin melakukan shalat bersama mereka, kita ingin berada dalam hadirat rohaniah bersama mereka, kedua-duanya dapat kita lakukan sekarang, kita akan melakukannya malam ini dan kita akan melakukannya besok. Dan kita dapat melakukannya setiap malam dan setiap hari dan Mawlana Syekh Nazim (q) telah mengajari kita caranya.

Beliau berkata bahwa para Wali, para Nabi dan Mukmin yang telah pergi ke alam berikutnya, khususnya orang yang membawa rahasia dan cahaya; dan telah menyebarkannya di dalam kehidupan ini, ketika mereka pergi ke alam berikutnya, Allah membusanai mereka dengan atribut dari ayat suci fii sabilillaahi amwaatan bal ahyaaun `inda rabbihim yarzaquuna, mereka hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rezeki. (QS 3:169). Itulah rahasia dari ayat itu, “hidup”. Mawlana Syekh berkata bahwa bila mereka hidup, bila kita hidup kita harus melakukan shalat kita, kita harus melakukan puasa kita, kita harus melakukan ibadah kita.

Ketika orang telah pergi ke alam berikutnya, semua itu berhenti kecuali satu hal yang diperintahkan dan diwajibkan bagi mereka. Awliya yang telah pergi ke alam berikutnya, para Nabi yang telah pergi ke alam berikutnya, semua orang saleh, para syekh yang telah pergi ke alam berikutnya mempunyai kewajiban untuk melakukan satu hal dari dunia ini. Dan satu hal yang tidak hilang itu adalah Shalatul Fajr, shalat di waktu Subuh. Mereka diperintahkan—semua Syekh, semua Awliya, semua Anbiya, semua orang saleh, mereka diperintahkan, ketika mereka telah pergi ke alam berikutnya—dikarenakan rahasia dari ayat tersebut bahwa mereka hidup di Hadirat Tuhannya dan mendapat rezeki—mereka diperintahkan untuk melakukan Shalat Fajr bersama Nabi (saw).

Dan Nabi (saw) setiap subuh, beliau shalat di Baitul Ma’mur, di Ka’bah di Surga. Ka’bah pernah diangkat pada saat banjir (Nabi Nuh) dan diangkat ke Surga dan itu disebut Baitul Ma’mur dan di sanalah para malaikat dan makhluk spiritual berdoa dan salat kepada Tuhannya, Allah (swt)—Tuhan kita. Jadi beliau, Mawlana Syekh berkata, “Semua Wali, semua Nabi, segala kewajibannya berhenti ketika mereka telah pergi ke alam berikutnya, kecuali saat Subuh mereka harus melakukan shalat di belakang Nabi (saw) di Ka’bah Surgawi, di Baitul Ma’mur, Ka’bah di Surga.” Dan beliau berkata, “Mereka yang telah pergi ke alam berikutnya, para Nabi dan para Wali berada di belakang Nabi (saw) dan orang-orang yang masih hidup di dunia ini, mereka diwajibkan untuk menjalani perjalanan secara spiritual ke Surga ke Ka’bah Surgawi tersebut dan melakukan shalat bersama para Anbiya dan Awliya di belakang Nabi (saw), tetapi mereka diperintahkan untuk tetap mempertahankan fisik mereka, kehadiran mereka di dunia bersama kita, tetapi hakikatnya berada dalam hadirat Nabi (saw) bersama para Anbiya dan Awliya.

Dan beliau—Mawlana mengatakan, “Jika kita shalat Subuh berjamaah, Allah (swt) akan menciptakan seorang malaikat yang berdoa untuk kita di Surga di belakang Nabi (saw), di belakang para Awliya, di belakang para Syekh, di belakang para Anbiya. Jadi kita akan hadir bersama mereka setiap pagi. Siapa pun yang ingin terhubung secara rohaniah dengan Mawlana Syekh Nazim (q) harus bangun untuk melakukan shalat Subuh dan pergi ke masjid. Jika kalian ingin terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q), jika kalian ingin terhubung dengan Sidi `Abdul Qadir al-Jaylani (q), jika kalian ingin terhubung dengan Sidi Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q), jika kalian ingin terhubung dengan Sidi ad-Dasuqi (q), jika kalian ingin terhubung dengan Sidi al-Badawi (q), dengan Sidi Ali al-Hujwiri (q), kita bangun pada saat Subuh, kita salat berjamaah; jika kalian dapat melakukannya di rumah secara berjamaah juga baik, tetapi bila kita pergi ke masjid, itulah sulitnya, karena tidak ada yang mau untuk bangun dari tempat tidurnya lalu pergi dengan mobilnya untuk pergi ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Dan di sanalah tempat kita kehilangan hubungan dengan mursyid kita.

Mawlana berkata—dan saya melihatnya sendiri ketika saya mengunjungi Mawlana Syekh Nazim (q) di Siprus; saya hadir di sebuah kamar dan beliau berbicara dengan dua orang. Beliau mengatakan kepada orang itu bahwa orang kedua datang ke hadirat Mawlana Syekh Nazim (q) setiap pagi dan mereka ada yang datang berkunjung dan ada yang tinggal di Siprus. Orang yang datang berkunjung itulah yang terhubung bersama Mawlana Syekh Nazim (q) setiap pagi. Dan orang yang terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q) setiap pagi itu selalu menyebut namanya setiap pagi dan ia selalu berusaha untuk melakukan salat Subuh berjamaah di masjid. Jadi Mawlana Syekh Nazim (q) menkonfirmasi hal itu. Dan saya ada di situ, saya menyaksikannya. Beliau berkata, “Orang ini terhubung denganku setiap pagi.” Beliau berkata “setiap pagi” padahal orang itu tidak tinggal di Siprus. Orang yang tinggal di Siprus dan salat bersama Mawlana setiap pagi—tetapi orang itu tidak tinggal di sana, tetapi ia menyebut nama Mawlana setiap hari dan berusaha untuk salat Subuh berjamaah setiap hari di masjid. Itulah yang seharusnya kita lakukan: bangun dan pergi ke masjid untuk salat Subuh. Kita pergi ke masjid untuk salat Subuh, kalian akan terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q) dan Syekh-Syekh lainnya; Nab-Nabi lainnya yang mempunyai kewajiban untuk salat di belakang Nabi (saw) setiap waktu Subuh di Baitul Ma’mur. Dan kita sebagai Muslim biasa, bila kita melakukannya, Allah (swt) akan menciptakan seorang malaikat—sebagai wakil bagi kita, yang mewakili kita untuk salat di belakang Nabi (saw) dan mursyid kita mengatakan bahwa pahala dari salat di belakang Nabi (saw) tersebut akan dituliskan dalam buku catatan amal kalian. Dan itu adalah untuk orang yang ingin terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q).

Ketika kita berada di dalam shaf di masjid, kalian melihat orang yang berada di sebelah kalian. Dan kalian dapat bersalaman dengan mereka dan kalian bisa mengucapkan salam kepada mereka. Sama halnya ketika kita berada di dalam shaf di belakang Nabi (saw) kita juga terhubung dengan semua ruh di sana, para Awliya, Malaikat dan Anbiya. Jadi triknya adalah bagun pada saat Subuh, lalu masuk ke mobil dan pergi ke masjid. Jika kalian mampu melakukannya, artinya kalian terhubung dengan mereka, secara spiritual kalian berada di sana. Bahkan jika kalian tidak merasakannya, tetapi kalian ada di sana.

Hal kedua yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q) adalah bahwa jika kalian melakukan salat Isya dengan jemaah, sekarang kita akan membicarakan salat Isya berjamaah. Jika kalian melakukan salat Isya berjamaah di masjid; kalian bisa melakukan salat Isya di rumah dengan jemaah, tetapi sekali lagi, beliau menekankan di masjid, karena itu sulit, ego tidak mau pergi, terutama untuk Isya dan Subuh. Karena Nabi (saw) bersabda di dalam hadits bahwa yang tersulit untuk orang-orang munafik adalah kedua salat ini: salat Isya dan salat Subuh. Orang munafik tidak mau pergi ke masjid; tetapi mereka datang untuk Zhuhur, Ashar dan Maghrib, mengapa? Karena saat itu kalian sudah bangun, kalian sudah melakukan pekerjaan rutin kalian sehari-hari, sehingga tidak menjadi masalah—tetapi untuk Isya dan Subuh tidak.

Beliau berkata, “Barang siapa yang melakukan salat Isya di masjid, ia akan salat di belakang Abu Bakar ash-Shiddiq (r).” Ia salat di belakang ash-Shiddiq (r), dan di belakang beliau adalah para Sadaat an-Naqsybandi, para wali Naqsybandi. Dan untuk orang-orang yang salat Isya di masjid, Mawlana mengatakan bahwa Allah menciptakan malaikat dari Cahaya-Nya yang akan mewakili kalian, mewakili kita di hadapan Allah di belakang ash-Shiddiq (r). Salat Isya di belakang ash-Shiddiq (r) jika kita pergi ke masjid dan salat Subuh di belakang Nabi (saw) jika kita pergi ke masjid. Dan Mawlana Syekh Nazim (q) berkata bahwa ini adalah jihadul akbar. Jika kita hanya melakukan hal ini, salat Isya berjamaah dan salat Subuh berjamaah, itu adalah jihad al-akbar, di mana kalian menempatkan ego di antara dua kutub. Kalian meletakkan ego di antara Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r) setelah Isya dan kalian meletakkan ego setelah Subuh di belakang Nabi (saw). Jadi, meletakkan ego di antara dua kutub, bagaikan kalian meletakkan sekeping logam di antara kedua kutub magnet, dia tidak dapat melarikan diri. Ego itu terbelenggu, terbatas gerakannya karena sekarang ia berada di antara kutub Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r), setelah Isya berjamaah dan kutub Sayyidina Muhammad (saw) setelah Subuh berjamaah.

Mawlana mengatakan bahwa barang siapa yang terus melakukan hal itu, salat Isya berjamaah di masjid dan salat Subuh berjamaah di masjid, ia akan mencapai jihad al-akbar, ia akan mencapai keselamatan dari hegemoni egonya (nafs). Itulah rahasia untuk membebaskan belenggu di sekeliling kita karena ego, dunia, hawa dan setan. Untuk membebaskan diri dari belenggu tersebut kita harus melakukan jihadul akbar melalui salat Isya berjamaah di masjid dan salat Subuh berjamaah di masjid. Kita salat mengikuti ash-Shiddiq (r) dan kita salat mengikuti Nabi (saw). Dan beliau mengatakan bahwa seluruh Wali yang telah pergi ke alam berikutnya, mereka semua melakukan salat Subuh di belakang Nabi (saw), sedangkan orang yang masih hidup, mereka berada di antara dua alam, secara fisik bersama kita dan secara hakikat bersama mereka. Dan kita, jika kita salat seperti itu, mengikuti seorang Imam di masjid, dan kita katakan—sebagaimana yang diajarkan oleh Mawlana Syekh Nazim (q), kita harus mengatakan, ketika kita memasuki Hadirat Ilahi untuk salat, kita harus mengatakan, “Wahai Tuhanku, aku telah memasuki majelis Haqq, aku telah memasuki hadirat Haqq, dan aku telah menempatkan diriku di belakang imam yang hadir di Hadratillah.” Dengan demikian salat kita akan langsung terhubung dengan Yang Maha Esa di Hadratillah. Kita salat di belakang seorang imam di masjid, tetapi kalian tidak tahu apakah ia terhubung.

Jadi Mawlana berkata bahwa ini adalah amal terbaik yang dapat dilakukan oleh kita semua, yaitu Salat Subuh di masjid dan segala sesuatu akan menjadi mudah bagi kita selama hari itu, karena kita sudah memulainya dengan Salat Subuh. Tetapi rahasia untuk terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q) adalah itu. Jika kalian mampu bangun dari tempat tidur kalian, lalu pergi ke masjid dan Salat Subuh, kalian terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q). Kalau tidak, kalian tidak dapat terhubung, tetapi ini adalah jalan yang lebih mudah, ini adalah jalan yang cepat. Dan mereka semua salat di belakang Nabi (saw) pada saat Subuh.

Kita memohon kepada Allah agar dikaruniai kekuatan untuk melakukan hal itu. Ini sangat berat bagi ego. Ini sangat berat, tetapi kita memohon agar Allah memasukkan kita sebagai orang-orang yang melakukan salat secara spiritual di belakang semua Anbiya dan Awliya di belakang Nabi (saw), Imam kita, Imamul Anbiya, Imamul Awliya. Dan juga bagi kita, Naqsybandi, untuk salat di belakang Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r) di waktu Isya. Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami untuk mampu melakukannya, berikan kekuatan untuk melakukannya, berikan kesehatan untuk melakukannya yaa Rabbi, berikan kekayaan untuk melakukannya yaa Rabbi, berikan kemampuan untuk melakukannya yaa Rabbi, dan berikan cinta dan dorongan untuk melakukannya yaa Rabbi untuk melakukan salat Isya di belakang Ash-Shiddiq (r) secara berjamaah di masjid dan salat di belakang Nabi (saw) pada saat Subuh secara berjamaah di masjid yaa Rabbi, bi hurmatil Habib bi hurmatil Fatihah.

http://sufilive.com/How-To-Be-in-the-Spiritual-Presence-of-Mawlana-Shaykh-Nazim-6156.html

© Copyright 2016 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

UA-984942-2